Blogroll

Rabu, 04 Juli 2012

Makalah "Analisis Konteks dalam penyusunan KTSP dalam pendidikan"


BAB 1
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Pengembangan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum yang dirancang untuk mengembangkan berbagai potensi yang ada pada setiap satuan pendidikan sehingga output pendidikan mampu memenuhi kebutuhan local maupun nasional. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP dikembangkan sesuai dengan potensi, karakteristik, kebutuhan satuan pendidikan dan daerah/lingkungan setempat (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006, Glosarium butir 6). Namun pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang terdiri atas Standar isi, proses, kompetensi lulusan, sarana dan prasarana, pengelola, pembiayaan dan pengelolaan. Kurikulum Tingkat Sekolah (KTSP) merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing sekolah. KTSP ini dikembangkan sesuai dengan tuntutan otonomi pendidikan. Pengembangan KTSP oleh sekolah sesuai dengan situasi dan konteks yang dimilikinya. Akan tetapi, sekolah tetap harus mengacu pada lingkup standar nasional pendidikan yang ada, sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Keleluasaan sekolah dalam mengembangkan KTSP tentu harus diikuti dengan analisis situasi sekolah ( analisis konteks) untuk mencapai lingkup standar nasional pendidikan yang sudah ditetapkan, di antaranya Standar Isi (SI) dalam Permendiknas no 22 tahun 2006 dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam Permendiknas no 23 tahun 2006. Hasil analisis tersebut merupakan dasar pijakan untuk menentukan kedalaman dan keluasan target-target yang ditetapkan, budaya yang akan dibangun, tujuan yang ingin dicapai, serta isi dan bahan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan bermutu di sekolah tersebut. Pencapaian tujuan pendidikan bermutu tersebut sesuai dengan UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 pasal 5, yaitu “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”.
Yang menjadi masalah dalam faktanya sebagian sekolah belum menganalisis dan mendefinisikan mutu lulusan  sebagai penjabaran dari indahya pernyataan fisi dan misinya.[1] Analisis konteks dalam pelaksanaan penyusunan KTSP berwujud evaluasi diri (self evaluation) terhadap sekolah. Hal itu dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). Dalam hal ini dapat diterapkan kajian lingkungan internal untuk memahami strengths atau kekuatan dan weaknesses atau kelemahan, serta kajian lingkungan eksternal untuk mengungkap opportunities atau peluang dan threats atau tantangan.[2]Adapun analisis konteks melalui SWOT terdiri atas hal-hal sebagai berikut ( BSNP, 2006: 32):
1.      Visi, misi, dan tujuan sekolah,
2.      Identifikasi SI dan SKL,
3.      Kajian internal atau kondisi sekolah (kekuatan dan kelemahan).
4.      Kajian eksternal atau situasi sekolah (peluang dan tantangan).
B.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk memnuhi tugas mata kuliah “Penembangan kurikulum” yang diberikan oleh dosen.
2.      Untuk lebih mengetahui proses pengembangan Kurikuluk Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
3.      Mengetahui akan petingnya Analisis Konteks dalam penyusunan KTSP agar terpenuhinya kebutuhan local satuan pendidikan.
4.      Agar mengetahui hal-hal yang menjadi garapan analisis konteks dalam penyususnan KTSP.
C.     Rumusan masalah
1.      Apa saja yang menjadi Ruang lingkup Analisis  konteks dalam penyusunan KTSP ?
2.      Bagaimana proses pembahasan dan penggunaan dari hal-hal yang termasuk dalam ruag lingkup analisis konteks ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.     Cakupan Analisis Konteks
Analisis kondisi satuan pendidikan adalah proses pengkajian komponen-komponen sumber daya di lingkungan sekolah untuk memperoleh data dan informasi antara lain tentang: kondisi ideal (sesuai dengan tuntutan SNP), kondisi riil (kekuatan dan kelemahan), kesenjangan (tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah) dan rencana tindak lanjut (upaya yang harus dilakukan oleh sekolah berdasarkan skala prioritas); sebagai acuan bagi sekolah dalam proses pengembangan KTSP. Analisis konteks merupakan salah satu pengembangan KTSP. Dalam analisis konteks memiliki 3 hal dalam cakupan analisis.
a)      Mengidentifikasi Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Proses, dan Standar Penilaian Pendidikan sebagai acuan dalam penyusunan KTSP.
b)      Menganalisis kondisi yang ada di satuan pendidikan yang meliputi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya, dan program-program.
c)      Menganalisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar misalnya komite sekolah, dewan pendidikan, dinas pendidikan, asosiasi  profesi, dunia industri dan dunia kerja, sumber daya alam dan sosial budaya.
Dari tiga hal di atas dapat disimpulkan dalam nalisis konteks memilki wilayah analisis dalam bidang : Identifikasi SNP, analisis satuan pendidikan, analisis kondisi lingkungan.
Kegunaan analisis konteks oleh satuan pendidikan adalah untuk :
1.      Mengembangkan kerangka model penyusunan KTSP yang sesuai dengan kondisi lapangan dan panduan yang disusun BSNP, agar menghasilkan dokumen KTSP yang sesuai dengan potensi sekolah.
2.      Menghasilkan model final proses penyusunan KTSP yang menghasilkan dokumen tertulis KTSP yang sesuai dengan potensi sekolah  dan fisibilitas.
B.     Melaksanakan Analisis konteks
1.      Identifikasi SNP (Standar Nasional Pendidikan). Dalam SNP mencakup wilayah pembahasan Standar Isi, Standar kelulusan, Standar Proses, dan Standar Penilaian, dan lain-lain. Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
a)      Standar isi
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memuat:
  • kerangka dasar dan struktur kurikulum,
  • beban belajar,
  • kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, dan
  • kalender pendidikan.[3]
SI mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam SI adalah : kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 22 Tahun 2006.[4]
1.      Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
         a. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
         b. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
         c. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
         d. kelompok mata pelajaran estetika;
         e. kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.
2.      Kurikulum untuk jenis pendidikan keagamaan formal terdiri atas kelompok mata pelajaran yang ditentukan berdasarkan tujuan pendidikan keagamaan.
3.      Satuan pendidikan nonformal dalam bentuk kursus dan lembaga  pelatihan menggunakan kurikulum berbasis kompetensi yang memuat  pendidikan kecakapan hidup dan keterampilan
b)      standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar proses meliputi : Standar Proses Penyiapan  perencanaan pembelajaran, Pelaksanaan proses pembelajaran, Penilaian Hasil Belajar, Pengawasan pembelajaran.
c)      standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar Kompetensi Lulusan terdiri dari: SKL Satuan Penddkan, SKL Kelompok  Mata pelajaran, SKL Mata Pelajaran.
d)      standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
e)      standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
f)       standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan  pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
g)      standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun; dan
h)      standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. [5] Standar Penilaian Pendidikan meliputi : Perangkat penilaian, Pelaksanaan penilaian, Hasil penilaian.
2.      Analisis Kondisi Satuan Pendidikan
Satuan Pendidiakan adalah Satuan Pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. (UU No. 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 butir 10). Hal-hal yang perlu dianalisis  adalah :
a)      Kekuatan (Strength): Kondisi sumber daya (peserta didik, pendidik & tendik, sarana dan prasarana, biaya, dan program-program)  yang baik dan terkendali.
b)      Kelemahan (Weakness): Kondisi sumber daya (peserta didik, pendidik & tenaga pendidik, sarana dan prasaran, biaya, dan program-program)  yang kurang baik dan tidak terkendali.
c)      Peluang (Opportunity): Faktor-faktor lingkungan (Komite Sek, Dewan Pend, Dinas Pendidikan,  Asosiasi Profesi, SDA, Sosial budaya, dsb) yang positif dan mendukung. 
d)      Tantangan/Ancaman (Threat): Faktor-faktor lingkungan (Komite Sekolah, Dewan Pendidikan, Dinas Pendidikan,  Asosiasi Profesi, SDA, Sosial budaya, dsb) yang negatif dan kurang/tidak mendukung.
Yang menjadi objek analisis situasi  lingkungan satuan pendidikan adalah :
1.      Peserta didik
           Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik dapat dilihat dari input awal dan saat pembelajaran. Analisi ini meliputi rata-rata kemampuan akademik peserta didik, minat, dan bakat peserta didik. Jadi, analisis peserta didik meliputi analisis kemampuan akademik dan nonakademik.
2.      Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Analisis terhadap pendidik dan tenaga kependidikan dimaksudkan agar KTSP yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan sekolah dan dapat dilaksanakan secara maksimal. Dalam melakukan identifikasi, setidaknya perlu diperoleh informasi mengenai: jumlah pendidik dan rinciannya, kelayakan fisik dan mental pendidik, latar belakang pendidikan dan/atau sertifat keahlian, kompetensi pendidik (pedagogik, kepribadian, profesional, sosial), rata-rata beban mengajar pendidik, rasio pendidik dan peserta didik, minat pendidik dalam pengembangan profesi.
3.      Sarana dan Prasarana
                  Analisis atas sarana yang dimiliki oleh sekolah meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.(SNP pasal 42 ayat 1).
4.      Biaya
                  Analisis biaya sesuai dengan pasal 62 tentang standar pembiayaan dalam SNP. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal. Biaya investasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia, dan modal kerja tetap.
5.      Program-program
                  KTSP disusun oleh sekolah untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan program-program meliputi: program pendidikan (antara lain: pemilihan mata pelajaran muatan nasional dan muatan lokal, pemilihan kegiatan pengembangan diri, penentuan pendidikan kecakapan hidup, penentuan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global), program pembelajaran, program remedial, dan program pengayaan.

3.      Analisis Kondisi Lingkungan
Peluang dan Tantangan :
a)      Komite Sekolah,
           Komite sekolah/madrasah merupakan pihak yang ikut berlibat dalam penyusunan KTSP di samping narasumber dan pihak lain yang terkait. Adapun tim penyusun KTSP terdiri atas pendidik, konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota. Pada tahap akhir, komite sekolah juga harus memberikan pertimbangan terhadap penyusunan KTSP. Dalam BSNP (2006: 5) disebutkan, pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah.
b)      Dewan pendidikan, ,
           Dewan Pendidikan beranggotakan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Dalam penyusunan KTSP, dewan pendidikan berperan sebagai lembaga yang dapat ikut memantau dan mengevaluasi pelaksanaan KTSP. Berdasarkan hal itulah, analisis terhadap kepedulian dewan pendidikan perlu dilakukan untuk semakin memantapkan pengembangan KTSP.
c)      Dinas pendidikan
           Dinas pendidikan kabupaten/kota bertugas melakukan koordinasi dan supervisi terhadap pengembangan KTSP. Dalam hal ini, dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri atas para pendidik berpengalaman di bidangnya. Analisis terhadap peluang dan tantangan yang ada di dinas pendidikan perlu dilakukan guna pengembangan KTSP.
d)      Sosial budaya.
           Selain itu, KTSP harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditumbuhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain. Agar peluang dan tantangan yang tersedia di alam sekitar dan ada di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat dapat dimanfaatkan secara maksimal.
e)      Asosiasi profesi
           Ada beberapa asosiasi profesi secara umum yang ikut mendukung profesionalisme pendidik. Akan tetapi, secara lebih khusus, asosiasi profesi untuk para pendidik/guru mata pelajaran di SMP terwujud dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang meliputi MGMP sekolah, kabupaten/kota, dan provinsi.
f)        Dunia Industri dan Dunia Kerja
           Selain itu  KTSP disusun dengan memperhatikan berbagai hal, di antaranya adalah dunia industri dan dunia kerja serta perkembangan ipteks. Dalam KTSP, rencana kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup.[6]








BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
1.      Analisis konteks penting dilakukan agar pengembangan kurikulum  KTSP benar-benar mampu menghasilkan output  yang sesuai dengan kebutuhan lokal dan nasional.
2.       Analisis kontek dapat dilakukan dengan melakukan beberapa analisis yaitu :
a.       analisis atau identifikasi SNP yang terasuk didalammya adalah : Standar isi, Standar kompetensi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik, dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar penilaian pendidikan.
b.      Analisis Kondisi Satuan Pendidikan dalamhal ini yang dinilai adalah : kekuatan (strength), kelemahan (weakness) peluang (opportunity) tantangan/ancaman (threat).
c.       Analisis Kondisi Lingkungan yang termasuk dalam analisis ini adalah : komite sekolah, dewan pendidikan, dinas pendidikan, sosial budaya, asosiasi profesi, dunia industri dan dunia kerja,dan lain-lain.
3.      Dengan berpijak pada panduan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang dibuat oleh BNSP, sekolah diberi keleluasaan untuk merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan kurikulum sekolah sesuai dengan situasi, kondisi, dan potensi keunggulan lokal yang bisa dimunculkan oleh sekolah. Untuk itu, dalam mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, sekolah membentuk suatu tim untuk melaksanakan musyawarah kerja dalam menyusun KTSP. Meskipun dalam kenyataannya banayak sekolah yang belum melakukan analisis konteks dan hanya menjiplak model KTSP dengan semua isi di dalamnya hanya dengan sedikit perubahan yang tidak begitu berarti. Hal ini menandakan kurangnya pemahaman dalam melakukan analisis konteks.[7]




DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Lif Khoiru,dkk, Strategi Pembelajaran Berorientasi Ktsp (Jakarta : Prestasi Pustakaraya, 2011) hal.68
Bambang Soehendro, Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah, diakses dari : http://bsnp-indonesia.org/id/wp- pada 13-11-2011
DepartemenPendidikan Nasional , PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005
Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN dalam Sosialisasi Ktsp, diakses dari : luk.staff.ugm.ac.id/atur/KTSP-SMK/02.ppt  pada : 13-11-2011
Lely Halimah,dkk, dalam penelitian : Pengembangan Model Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Ktsp) Yang Mengacu Pada Standar Nasional Pendidikan, yang diakses dari : http://jurnal.upi.edu/file/Lely_Halimah.pdf pada : 13-11-2011



[1]             Lif Khoiru Ahmadi,dkk, Strategi Pembelajaran Berorientasi Ktsp (Jakarta : Prestasi Pustakaraya, 2011) hal.68

[3]             http://abhecuek.wordpress.com/2010/04/25/standar-kompetensi/ diakses pada : 13-11-2011
[4]               Bambang Soehendro, Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah, diakses dari : http://bsnp-indonesia.org/id/wp- pada 13-11-2011
[5]             DepartemenPendidikan Nasional , PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005
Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN dalam Sosialisasi Ktsp, diakses dari : luk.staff.ugm.ac.id/atur/KTSP-SMK/02.ppt  pada : 13-11-2011


[7] Lely Halimah,dkk, dalam penelitian : Pengembangan Model Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Ktsp) Yang Mengacu Pada Standar Nasional Pendidikan, yang diakses dari : : http://jurnal.upi.edu/file/Lely_Halimah.pdf pada : 13-11-2011

Reaksi: